Pandeglang, Radar Kriminal - Terulang Kembali Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) adalah bantuan sosial pangan dalam bentuk non tunai dari pemer...
Pandeglang, Radar Kriminal- Terulang Kembali Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) adalah bantuan sosial pangan dalam bentuk non tunai dari pemerintah yang diberikan kepada KPM setiap bulannya melalui mekanisme akun Elektronik yang digunakan hanya untuk membeli bahan pangan di pedagang bahan pangan/E-waroong yang bekerjasama dengan bank. Dan lagi-lagi ada penyelewengan terkait nominal yang tidak sesuai dengan KPM terima.
Teddy Asseghaf Tokoh Pemuda di Kecamatan Menes mengatakan bahwa Program Sembako BPNT yang saat ini telah diterima oleh para KPM di wilayah Kecamatan Menes diduga tidak sesuai dengan Nominal nilai uang dalam program BPNT Karena para KPM hanya menerima Beras 10 Kg, Telur 2 Kg dan kacang ijo ½Kg. Jumat (19/06/2020)
"Patut kita ketahui bahwa nominal uang dalam kartu BPNT itu senilai Rp 200.000, tapi sembako yang diterima KPM saya rasa tidak mencapai sebesar Rp 200.000. Ketika dirincikan, untuk beras 10 kg seharga Rp 100.000 telur 2 Kg Rp. 48.000, dan Kacang Ijo ½ Kg Rp. 15.000. Jadi total semuanya sebesar Rp 163.000, Masih ada sisa sebesar Rp 37.000. Lalu saldonya itu dikemanakan,?" ucap Teddy
Masih di katakan Teddy Smentara , Jumlah KPM yg ada di wilayah kecamatan Menes kurang lebih 2.700 KPM, Silahkan hitung saja berapa margin yang tersisa dari semua KPM perbulannya, "Saya selaku Warga Menes berharap, agar kejadian seperti ini tidak pernah terulang kembali dalam setiap penyaluran program tersebut, dan apabila ini terjadi saya tidak segan-segan akan membawa hal ini ke ranah hukum, karena saya anggap ini adalah bentuk peneyelewengan terhadap bantuan Sosial pangan tersebut. Tambah Teddy
Sementara itu Ilma fatwa, ketua umum Ikatan Remaja Muhamadiah Kabupaten Pandeglang mengatakan Pada Media Radar Nusantara Grop melihat Harga komoditi Per Item dari distributor ke Agen e -Waroong yang ada di Desa - Desa dengan harga yang fantastis namun para distributir tidak menjaga kualitas komoditi .
"BPNT jangan menjadi ladang bisnis suplayer dan menjadikan KPM sebagi sapi perah. Dan harusnya selisih harga berpatokan pada harga Pasar. Tksk hendaknya jangan jadi anak buah Suplayer. Dinsos harus tegas ganti semua TKSK Yang bermain di Program BPNT. Ucap
Ilma
Masih di katakan Ilma, " ini sudah seperti perampokan bergaya Baru dimana kalo di jaman dahulu memeras Rakyat kecil dengan cara kekerasan saat ini para Suplayer memeras Uang KPM dengan Cara memotong uang kpm dari mengambil Keuntungan cukup Pangastis. Tambah Ilma.
(Agus)

COMMENTS