Labuhanbatu,Radar Kriminal- Sungguh tak terasa 25 tahun yang lalu sepucuk surat yang pernah di buat bapak *YOS WARU* sebagai Ketua Ikatan P...
Labuhanbatu,Radar Kriminal-Sungguh tak terasa 25 tahun yang lalu sepucuk surat yang pernah di buat bapak *YOS WARU* sebagai Ketua Ikatan Persaudaraan Buruh Kristen (IPBK) di Medan. Surat tersebut disimpan oleh seseorang sahabat keturunan India (dulu mahasiswa salahsatu STT di Medan) kini seorang pendeta bernama Imam Sorga Rev Samuel.
Surat itu dibuat memohon kepada salahsatu lembaga gereja untuk memberi izin kepada Rev Samuel melakukan pelayanan rohani kepada buruh yang beragama Kristen. Pelayanan rohani kepada buruh sekaligus sebagai wahana mendiskusikan masalah yang kami alami di pabrik.
Surat ini kembali mengingatkan saya, sepenggal kisah perjuangan puluhan tahun lalu. Perjuangan orang pinggiran.
Kembali ke cerita keagamaan, teman-teman kami buruh yang beragama Muslim juga melakukan hal yang sama dimana kami juga menghadiri acara keagamaan teman-teman umat Muslim seperti peringatan Isra Mi'raj.
Kegiatan keagamaan di kalangan buruh saat itu memang sangat menguatkan dari sisi spritual sekaligus menguatkan gerakan buruh di masa itu, dikenal masa pembungkaman kebebasan berserikat, berkumpul dan berekspresi oleh pemerintahan Soeharto dikenal rezim orde baru.
Perbedaan keyakinan di kalangan kami kaum buruh pada masa itu bukan sesuatu penghalang, justru saling menguatkan dan bersatu menghadapi masalah bersama yakni pengsihapan (eksploitasi) para pemilik perusahaan kepada kaum buruh. Upah rendah, jam kerja berlebihan, kerja tanpa cuti, tanpa jaminan sosial (masa itu Astek), tidak boleh berserikat selain SPSI, bisa di PHK semena-mena bahkan berani bicara soal buruh, urusannya bisa lain: berhadapan dengan aparat keamanan.
Beruntung kami ditopang oleh salahsatu lembaga yang concern memberdayakan kaum buruh yakni Yayasan Kelompok Pelita Sejahtera (YKPS) dan organisasi yang dikomandoi Bang Mukhtar Pakpahan yakni Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI). Selain itu kami membangun jaringan perjuangan bersama organisasi massa seperti Gerakan Rakyat Marhaen dan organisasi kemahasiswaan yang eksis melakukan pengorganisasian gerakan rakyat (buruh, petani, nelayan dan miskin kota). Di sana kami mendiskusikan lebih besar tentang demokrasi, supremasi hukum dan hak azasi manusia.
Tahun 1995 itu masa paling gamang bagi kami dimana 130-an orang teman kami buruh dan aktifis buruh sedang berada di dalam penjara karena peristiwa demonstrasi puluhan ribu buruh di Medan pada tanggal 14 April 1994 yang berakhir dengan kerusuhan dan kota Medan menjadi kota mati selama seminggu lamanya. Demonstrasi itu memang membuahkan hasil menggembirakan dan menjadi warisan bagi kaum buruh Indonesia hingga kini, yakni Presiden Soeharto menetapkan Tunjangan Hari Raya (THR) keagamaan sebesar sebulan upah dan menetapkan Upah Minimum Regional (UMR) sekarang UMP dan UMK.
Apa makna dan pertautan dari surat ini dengan gerakan buruh atau gerakan rakyat? Bahwa gerakan rakyat untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik mesti beriringan berjalan bersama dengan gerakan moral. Kesadaran akan terbangun dengan benar bila bangunan gerakan didasarkan pada gerakan moral, bukan semata-mata kepentingan pribadi atau kepentingan jangka pendek.
Tanpa moral, kita tidak mewarisi apa-apa untuk generasi yang lebih baik.(R.waruwu)

COMMENTS