Pandeglang, RK Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Waringinjaya, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, menjadi sorotan set...
Pandeglang, RK
Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Waringinjaya, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, menjadi sorotan setelah muncul dugaan keterlibatan aparatur sipil negara (ASN) dalam pengelolaan dapur SPPG, di tengah keluhan warga terkait kualitas layanan dan pengelolaan limbah yang dinilai belum optimal.
Dapur MBG yang beroperasi di bawah SPPG Waringinjaya, Cigeulis #001 tersebut diketahui dikelola oleh Yayasan Kyai Haji Tubagus Ahmad Rasyad Al-Asnawi Caringin.
Keluhan masyarakat mencuat seiring berjalannya program. Warga menilai masih terdapat sejumlah aspek yang perlu dibenahi, mulai dari kualitas menu, pola komunikasi petugas, hingga kebersihan lingkungan dapur.
Salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan, sebut saja Eman, menyampaikan bahwa selain persoalan kualitas, juga muncul informasi yang menjadi perhatian masyarakat terkait dugaan rangkap peran ASN dalam program tersebut.
“Selain soal kualitas, di lapangan juga ada informasi bahwa di SPPG ini ada PNS yang menjabat sebagai kepala sekolah berinisial HE, serta guru ASN PPPK berinisial M yang diduga terlibat dalam pengelolaan,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, informasi tersebut perlu mendapatkan klarifikasi agar tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat.
“Harapannya hal-hal seperti ini bisa diperjelas, supaya tidak menimbulkan salah persepsi di masyarakat,” tambahnya.
Eman juga menilai sejak awal program berjalan, kualitas pelayanan masih perlu ditingkatkan, termasuk dalam aspek kebersihan dan pengelolaan limbah.
“Kalau dilihat sejak awal berjalan, kualitasnya masih perlu ditingkatkan. Termasuk soal kebersihan dan pengelolaan limbah yang menurut kami perlu diperjelas, apakah sudah sesuai standar atau belum,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kritik yang disampaikan masyarakat seharusnya menjadi bahan evaluasi.
“Harapannya setiap keluhan bisa dijadikan bahan perbaikan, karena program ini menyangkut kepentingan masyarakat luas,” katanya.
Selain itu, warga juga mengeluhkan aktivitas di sekitar dapur yang dinilai mengganggu kenyamanan lingkungan, terutama pada malam hari.
“Pami malem MBG berisik, musik teu aya aturan, sok karaoke, ngaganggu tetangga istirahat,” ujarnya.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Person In Charge (PIC) atau penanggung jawab operasional MBG di dapur SPPG Waringinjaya, Marja, mengakui adanya kekurangan dalam pelaksanaan program.
“Mohon maaf, itu di luar dugaan. Itu semua kelalaian tim kami dan kenyataan di lapangan tidak sesuai rencana. Insya Allah ke depan kami akan terus berusaha memperbaiki semuanya,” ujarnya.
Marja menegaskan pihaknya telah mengingatkan seluruh tim untuk meningkatkan kinerja, baik dari sisi pelayanan, sikap, maupun kualitas makanan.
“Iya pak, sudah kami ingatkan semua karyawan agar lebih baik lagi, baik dari kinerja, perilaku, dan lainnya,” tambahnya.
Terkait struktur pengelolaan, ia menyebut beberapa pihak yang terlibat di antaranya Nana dan Humae Zen. Sementara itu, terkait nama H. Erah, Marja menyatakan bahwa yang bersangkutan hanya berperan sebagai mitra dan tidak termasuk dalam struktur resmi pengelolaan dapur.
“Oh iya, H. Erah hanya sebagai mitra saja, bukan bagian dari struktur di sini,” jelasnya.
Namun saat dikonfirmasi lebih lanjut terkait dugaan rangkap pekerjaan, Marja belum memberikan penjelasan rinci dan memilih menyampaikan klarifikasi secara langsung.
“Lebih baik kita bertemu dan berdiskusi langsung agar tidak terjadi kesalahpahaman. Nanti bisa sekalian dengan pihak SPPG juga agar lebih jelas,” pungkasnya.
(YEN)

COMMENTS